Menjadi Delegasi RI di Rapat Tingkat Tinggi PBB Berantas TBC

SONIA Wibisono, dokter yang juga presenter bidang kesehatan di sejumlah stasiun televisi dijadwalkan bertolak ke New York, Amerika Serikat, guna mengikuti Rapat Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations High Level Meeting) memberantas penyakit Tuberculosis (TBC) pada 26 September 2018.
Sonia menjadi delegasi Indonesia bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, serta Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

“Saya akan berdiskusi menemukan jalan terbaik guna membantu sesama dalam pemberantasan penyakit TBC, sebagai salah satu delegasi Indonesia bersama pejabat tinggi Indonesia di Rapat Tingkat Tinggi PBB,” kata Sonia melalui keterangannya yang diterima di Jakarta, Senin (24/9).

Sonia mengaku diundang sebagai delegasi Indonesia karena dewan di PBB mengundang wakil masyarakat sipil untuk membentuk suatu Kelompok Kerja Masyarakat Sipil perwakilan pada Rapat Tinggi PBB guna memastikan suara masyarakat sipil dimasukkan dalam persiapan rapat tersebut.

Dia mengutarakan, penyakit TBC merupakah penyakit infeksi yang masih sangat tinggi di berbagai negara dengan pencegahan dan penanganan yang sangat sulit. Maka TBC pun ditetapkan sebagai penyakit yang serius dibahas untuk diberantas.

Menurut Sonia, Indonesia merupakan negara kedua tertinggi jumlah penderita TBC setelah India. Setiap hari 300 orang meninggal karena TBC di Indonesia.

“Kita harus bersemangat tinggi bersama-sama membantu pemberantasan TBC. Karena TBC bisa mengenai semua kalangan,” cetusnya seraya menyampaikan salah satu keluarganya pernah terkena TBC pada 2000, walaupun di rumah bersih, tetapi lingkungan banyak yang menderita TBC apalagi kondisinya daya tahan tubuh yang kurang sebab sedang berdiet.

Dia menjelaskan, TBC memang masih menjadi ancaman di Indonesia, karena kuman mycobacterium tuberculosis gampang menular dari satu orang ke orang lain melalui sedikit droplet (riak) saat batuk atau bersin, dan menyebar ke udara, terutama di tempat yang padat penduduk. Lebih mudah menular pada orang-orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Sonia memaparkan, gejala TBC antara lain batuk. Pada tahap selanjutnya, batuk bisa menghasilkan dahak berwarna abu-abu atau kuning yang bisa bercampur dengan darah. Perhatikan penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan, lalu adanya kelelahan dan demam.

Selain itu, berkeringat di malam hari dapat dimulai dengan demam dan akhirnya menyebabkan keringat berlimpah diikuti oleh menggigil. Gejala lain berupa panas dingin, kehilangan nafsu makan. Berikutnya amati urine yang berubah warna (kemerahan) atau urine keruh. Ini merupakan gejala yang muncul pada tahap selanjutnya

Setelah dilakukan pemeriksaan, apabila memang terdiagnosis TBC akan dilakukan pengobatan. Pengobatan ini gratis melalui Puskesmas dan disediakan pemerintah dalam waktu 6 bulan agar kumannya benar-benar mati tuntas. Di sini lah dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan keluarga, suster maupun dokter untuk terus memacu pasien agar tidak putus berobat. Karena sekali putus, maka kuman bisa menjadi kebal dan tidak mempan lagi dengan obat lini pertamanya.

Menurut dia, peran masyarakat sangat dibutuhkan karena pemerintah tidak bisa bergerak sendiri untuk membrantas TBC ini. Masyarakat dapat berperan mengedukasi bagi masyarakat yang belum mengerti tentang cara pencegahan misalnya memakai masker, penemuan gejala dengan edukasi gejala TBC lewat  media sosial maupun media lainnya.

Bagi penderita gejala seperti ini dapat dibawa ke dokter untuk diperiksa, didiagnosa, dan diobati. Mereka di edukasi bahwa pengobatannya gratis dari pemerintah.

“Saat diobati pun sangat diperlukan dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar untuk menyemangati agar jangan sampai putus obat,” cetusnya.

Sonia melajutkan dengan melihat begitu besarnya peran masyarakat untuk membantu memberantas TBC, maka bagi siapa saja, masyarakat, perusahaan, yayasan, organisasi atau swasta yang ingin menyampaikan aspirasinya di rapat tinggi PBB, atau ingin bekerja sama berkolaborasi memberantas tuberkulosis di Indonesia, baik dengan cara melakukan edukasi pencegahan, membantu pemeriksaan diagnosa TBC, yang termudah adalah pemeriksaan rontgen dada di saat pemeriksaan tes masuk perusahaan, ataupun menyemangati para pasien dalam pengobatan TBC.

“Juga bisa berbagi ide kepada saya, mohon bisa disampaikan ke saya melalui DM ke Instagram saya, sesegera mungkin agar bisa saya sampaikan ke sidang PBB di New York,” pungkasnya.

Penulis : Syarief Oebaidillah
Pada : Senin, 24 Sep 2018, 19:25 WIB

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top